Dari skenario,
diketahui bahwa seorang ibu muda Menda berusia 30 tahun yang sedang hamil
dengan usia kandungan 24 minggu datang ke dokter gigi ditemani oleh suami
dengan keluhan sakit pada gigi M1 inferior dextra, setelah dilakukan pemeriksaan
oleh dokter gigi didapati karies pada gigi tersebut dan gusi yang membengkak
disekitar gigi yang sakit. Karena gigi os sedang sakit maka dokter gigi
tersebut hanya memberikan obat dan merencanakan perawatan gigi ibu tersebut.
Obat apa yang akan diberikan pada ibu hamil tersebut?
Pada umumnya ibu hamil
dinyatakan sehat tetapi tidak perlu dipungkiri bahwa mereka menolak perawatan
gigi dan mulut karena mereka hamil, namun kehamilan yang sehat juga dapat
menyebabkan perubahan besar terkait dengan meningkatnya hormon estrogen dan
progesteron, perubahan fisiologi anatomi dan metabolisme, perubahan dalam
rongga mulut dan menurunnya immunocompetence host sehingga meningkatkan
kerentanan terhadap infeksi oral.
Perubahan fisiologis yang kompleks seperti mual dan
muntah dapat mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut selama kehamilan yang disebabkan adanya perubahan pola makan dan
kebersihan mulut yang kurang. Meskipun perubahan dari sistem organ ibu hamil
adalah hal yang normal, mereka memerlukan pertimbangan dan penyesuaian dalam
perawatan dan pengobatan dokter gigi yang memberikan pelayanan kesehatan gigi
dan mulut.
Karies atau kerusakan
gigi pada wanita hamil terjadi akibat adanya perlekatan asam yang terus menerus
pada permukaan gigi, bukan karena kehamilannya. Hal ini bisa terjadi ketika
wanita mengkonsumsi makanan atau minuman yang sangat manis untuk mencegah mual
pada trimester pertama.
Gambar 1. Karies M1
Perubahan hormon estrogen dan progesteron pada saat
hamil mengakibatkan meningkatnya vaskularisasi dan perubahan dinding pembuluh
darah di gingiva sehingga gingiva menjadi lebih sensitif tekena iritasi lokal.
Iritasi lokal ini bisa diakibatkan oleh plak yang efeknya bisa diperparah oleh
adanya plak, kalkulus, dan karies.
Gambar 2. Gingivitis pragnancy
Saat merawat pasien hamil, dokter gigi harus menghindari
pemberian resep obat tertentu yang biasanya digunakan untuk anestesi lokal,
sedasi, analgesia atau infeksi. Dokter perlu mengetahui bahwa manfaat potensial
obat yang dibutuhkan untuk perawatan gigi ibu tersebut lebih besar dibanding
risiko terhadap janinnya.
Farmakoterapi yang paling aman untuk mengurangi rasa
sakit pada gingiva yang bengkak terhadap ibu hamil pada trimester kedua adalah
antibiotik amoxicilin dengan dosis 250 mg, dan paracetamol untuk menghilangkan
rasa sakit terhadap gingiva yang bengkak. Untuk perawatan pada gigi M1 yang
mengalami karies dapat dilakukan restorasi sementara untuk mencegah masuknya
bakteri atau infeksi yang lebih parah.
Tujuan setiap terapi obat yang diresepkan selama
kehamilan adalah untuk menghindari reaksi obat yang merugikan baik pada ibu
maupun janin. Reaksi toksik, alergi atau hipersensitifitas yang terjadi pada
wanita dapat mempengaruhi kesehatannya dan membatasi kemampuannya untuk
menjalani kehamilan. Efek obat yang merugikan secara spesifik terhadap kesehatan
janin adalah mencakup cacat kongenital, keguguran, komplikasi kelahiran, berat
lahir rendah dan ketergantungan obat pasca lahir.
Efek-efek ini biasanya
bersifat spesifik terhadap masa pemberian obat (selama trimester pertama, kedua
atau ketiga ), dosis dan durasi terapi. Terapi gigi yang biasanya menggunakan
obat dengan waktu paruh metabolik pendek diberikan untuk periode terbatas, oleh
karena itu cenderung kurang menyebabkan komplikasi selama kehamilan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar