Yuniar #DENTISTRY

Kamis, 27 Juni 2013

BLOK FHARMACOLOGY. Ibu hamil dengan keluhan gingivitis dan karies pada rongga mulut




            Dari skenario, diketahui bahwa seorang ibu muda Menda berusia 30 tahun yang sedang hamil dengan usia kandungan 24 minggu datang ke dokter gigi ditemani oleh suami dengan keluhan sakit pada gigi M1 inferior dextra, setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter gigi didapati karies pada gigi tersebut dan gusi yang membengkak disekitar gigi yang sakit. Karena gigi os sedang sakit maka dokter gigi tersebut hanya memberikan obat dan merencanakan perawatan gigi ibu tersebut. Obat apa yang akan diberikan pada ibu hamil tersebut?

Pada umumnya ibu hamil dinyatakan sehat tetapi tidak perlu dipungkiri bahwa mereka menolak perawatan gigi dan mulut karena mereka hamil, namun kehamilan yang sehat juga dapat menyebabkan perubahan besar terkait dengan meningkatnya hormon estrogen dan progesteron, perubahan fisiologi anatomi dan metabolisme, perubahan dalam rongga mulut dan menurunnya immunocompetence host sehingga meningkatkan kerentanan terhadap infeksi oral.

            Perubahan fisiologis yang kompleks seperti mual dan muntah dapat mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut selama kehamilan yang  disebabkan adanya perubahan pola makan dan kebersihan mulut yang kurang. Meskipun perubahan dari sistem organ ibu hamil adalah hal yang normal, mereka memerlukan pertimbangan dan penyesuaian dalam perawatan dan pengobatan dokter gigi yang memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut.
            Karies atau kerusakan gigi pada wanita hamil terjadi akibat adanya perlekatan asam yang terus menerus pada permukaan gigi, bukan karena kehamilannya. Hal ini bisa terjadi ketika wanita mengkonsumsi makanan atau minuman yang sangat manis untuk mencegah mual pada trimester pertama.

                                                              Gambar 1. Karies M1

      Perubahan hormon estrogen dan progesteron pada saat hamil mengakibatkan meningkatnya vaskularisasi dan perubahan dinding pembuluh darah di gingiva sehingga gingiva menjadi lebih sensitif tekena iritasi lokal. Iritasi lokal ini bisa diakibatkan oleh plak yang efeknya bisa diperparah oleh adanya plak, kalkulus, dan karies.

                                                       Gambar 2. Gingivitis pragnancy

            Saat merawat pasien hamil, dokter gigi harus menghindari pemberian resep obat tertentu yang biasanya digunakan untuk anestesi lokal, sedasi, analgesia atau infeksi. Dokter perlu mengetahui bahwa manfaat potensial obat yang dibutuhkan untuk perawatan gigi ibu tersebut lebih besar dibanding risiko terhadap janinnya.
            Farmakoterapi yang paling aman untuk mengurangi rasa sakit pada gingiva yang bengkak terhadap ibu hamil pada trimester kedua adalah antibiotik amoxicilin dengan dosis 250 mg, dan paracetamol untuk menghilangkan rasa sakit terhadap gingiva yang bengkak. Untuk perawatan pada gigi M1 yang mengalami karies dapat dilakukan restorasi sementara untuk mencegah masuknya bakteri atau infeksi yang lebih parah.
            Tujuan setiap terapi obat yang diresepkan selama kehamilan adalah untuk menghindari reaksi obat yang merugikan baik pada ibu maupun janin. Reaksi toksik, alergi atau hipersensitifitas yang terjadi pada wanita dapat mempengaruhi kesehatannya dan membatasi kemampuannya untuk menjalani kehamilan. Efek obat yang merugikan secara spesifik terhadap kesehatan janin adalah mencakup cacat kongenital, keguguran, komplikasi kelahiran, berat lahir rendah dan ketergantungan obat pasca lahir.
Efek-efek ini biasanya bersifat spesifik terhadap masa pemberian obat (selama trimester pertama, kedua atau ketiga ), dosis dan durasi terapi. Terapi gigi yang biasanya menggunakan obat dengan waktu paruh metabolik pendek diberikan untuk periode terbatas, oleh karena itu cenderung kurang menyebabkan komplikasi selama kehamilan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar